Jumat, 28 Januari 2011

SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI MATA PELAJARAN FIQIH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Penegasan Judul
Untuk lebih memudahkan pembahasan maupun untuk menghindarkan kekeliruan penafsiran terhadap judul proposal :
   “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI MATA PELAJARAN FIQIH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IX MTs GUPPI KARANGSARI KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2008/2009”
Maka penulis merasa perlu untuk menjelaskan dan mempertegas judul yang digarap dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.      Pengaruh
Daya yang ada atau timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang[1]
Jadi yang dimaksud dengan pengaruh dalam proposal ini adalah suatu daya yang timbul dari model pembelajaran demonstrasi mata pelajaran fiqih terhadap prestasi belajar siswa
2.      Model Pembelajaran
Model adalah Pola dari sesuatu yang akan dihasilkan[2],

1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta,Balai Pustaka, 1991,  Hal 662
2 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta,Balai Pustaka, 1991,  Hal 15



 
Pembelajaran adalah Proses Menjadikan Orang atau makhluk hidup belajar[3]
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik
Dengan demikian model pembelajaran adalah pola dari proses menjadikan peserta didik untuk belajar melalui proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik.
3.      Demonstrasi
Bersifat kerjasama[4], Pembelajaran Kooperatif merupakan model pembelajaran dimana siswa didalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok mereka bekerjasama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah disampaikan oleh guru. [5]
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Dengan menggunakan metode demonstrasi, guru atau murid memperlihatkan kepada seluruh anggota kelas mengenai suatu proses, misalnya bagaimana cara sholat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW[6]
Dari uraian dan definisi di atas, dapat dipahami bahwa metode demonstrasi adalah dimana seorang guru memperagakan langsung suatu hal yang kemudian diikuti oleh murid sehingga ilmu atau keterampilan yang didemonstrasikan lebih bermakna dalam ingatan masing-masing murid.
4.      Mata Pelajaran
Pelajaran yang harus diajarkan (dipelajari) untuk sekolah dasar atau sekolah lanjutan [7]
Mata pelajaran yang dimaksud dalam proposal ini adalah satu pelajaran yang diajarkan pada sekolah atau madrasah dalam hal ini adalah mata pelajaran fiqih
5.      Fiqih
Menurut Abdul Wahab Kalaf  dalam Masdar Helmy defenisi ilmu Fiqih adalah :
“Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’ah Islam mengenai perbuatan Manusia yang diambil dari dalil-dalil secara detail atau Kodifikasi hukum-hukum Syari’ah Islam tentang perbuatan manusia yang diambil berdasarkan dalil-dalil secara detail”[8]
.
Fiqih yang dimaksud disini adalah satuan mata Pelajaran yang diajarkan pada satuan pendidikan dalam hal ini yang diajarkan di MTs GUPPI Karangsari.
6.      Prestasi Belajar
Prestasi belajar berasal dari kata “ prestasi “ dan “belajar’ prestasi berarti hasil yang telah dicapai[9]. Sedangkan pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.[10]
Menurut Oemar Hamalik :
“Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan”[11]

Menurut Suparta dan Herry Noer Ali :
“Belajar mengandung arti perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar”[12]
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa yang dimaksud dengan  prestasi belajar adalah pencapaian hasil belajar siswa yang berupa penghargaan atau nilai yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.


7.      Siswa
Murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah) pelajar[13] menurut oemar hamalik murid suatu organisme yang hidup, yang mereaksi, berbuat, dan sebagainya yang memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, intelek dan masalah-masalah tertentu, yang bersifat aktif dan unik[14]
Jadi yang dimaksud dengan siswa disini adalah murid atau pelajar atau manusia yang memiliki keinginan, kebutuhan dan intelektualitas.dalam hal ini yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs. GUPPI Karangsari
8.      MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus
MTs atau Madrasah Tsanawiyah adalah tingkatan pendidikan setara dengan Sekolah Menegah Pertama (SMP) yang ada di Lembaga Pendidikan Islam, yang bersifat Formal
MTs GUPPI Karangsari Adalah tempat penulis melakukan penelitian.
9.      Tahun pelajaran 2008/2009
Adalah waktu penulis melakukan penelitian

B.           Alasan Memilih Judul
1.            Adanya variasi nilai atau prestasi belajar mata Pelajaran Fiqih di Kelas IX MTs GUPPI Karangsari yang masih rendah.
2.            Hasil belajar siswa akan lebih baik apabila ada upaya pembinaan pembelajaran setiap guru, sehingga motivasi tinggi sebagaimana yang diinginkan untuk mencapai prestasi yang optimal.
3.            Betapa tinggi dan pentingnya mata pelajaran Fiqih untuk dipelajari karena membahas ajaran Islam tentang cara – cara manusia melaksanakan hubungan kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia.

C.          Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya berlangsung dalam suatu proses. Proses itu berupa transformasi nilai-nilai pengetahuan, teknologi dan keterampilan.
Penerima proses adalah anak atau siswa yang sedang tumbuh dan berkembangmenuju ke arah pendewasaan kepribadian dan penguasaan pengetahuan. Selain itu, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang diperoleh melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang kehidupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yaitu:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْر
Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Mujadalah : 11)[15]

Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak yang lahir, tumbuh dan berkembang secara manusiawi dalam mencapai kematangan fisik dan mental masing-masing anak. Di dalam keluarga, setiap anak memperoleh pengaruh yang mendasar sebagai landasan pembentukan pribadinya.
Untuk lebih meningkatkan potensi pada diri anak, orang tua tidak hanya mendidik anaknya di rumah, akan tetapi mereka mengirimkan atau menitipkan anaknya ke sekolah, agar mampu memenuhi tuntutan zaman sekaligus meningkatkan pendidikan pada anak tersebut.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dalam membimbing dan mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individual.
Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung secara formal artinya terikat oleh peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan dilaksanakan. Di sekolah, murid atau anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan tetapi gurulah sebagai pengganti orang tua.
Salah satu bidang studi yang diajarkan di MTs. adalah fiqih. Fiqih secara umum merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak membahas tentang hukum yang mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya. Melalui bidang studi fiqih ini diharapkan siswa tidak lepas dari jangkauan norma-norma agama dan menjalankan aturan syariat Islam.
Proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[16] Disini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang diinginkan.
Sedangkan metode adalah suatu cara dan siasat penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran, agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran. Selain itu juga dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik.
Kedua kegiatan ini saling mempengaruhi dan dapat menentukan hasil belajar. Disini kemampuan guru dalam menyampaikan atau mentransformasikan bidang studi dengan baik, merupakan syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi karena hal ini dapat mempengaruhi proses mengajar dan hasil belajar siswa.
Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan baik agar siswa lebih mudah memahami pelajaran, seorang guru selain harus menguasai materi, dia juga dituntut untuk dapat terampil dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk situasi dan kondisi yang dihadapinya. Seorang guru sangat dituntut untuk dapat memiliki pengertian secara umum mengenai sifat berbagai metode, baik mengenai kebaikan metode maupun mengenai kelemahan-kelemahannya.
Salah satu strategi dan metode belajar mengajar yang dapat diterapkan untuk meningkatkan berbagai bentuk tingkah laku positif dan prestasi pada siswa melalui metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi selain menuntut guru menguasai kompetensi juga memberikan contoh kepada siswa tentang materi dan Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersama-sama dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode.
Secara umum demonstrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran.
Berdasarkan wawancara dengan guru Mata Pelajaran Fiqih di Kelas IX MTs GUPPI Karangsari, diketahui bahwa Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih masih rendah. Hal ini ditunjukan dengan masih banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah pada pelajaran fiqih semester ganjil Tahun Pelajaran 2008/2009.


Tabel 1. Data Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqih Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009 semester ganjil
NO
NAMA
PRESTASI
Nilai Akhir
Kognitif
Afektif
Psikomotorik
1
Ahmad Darmanto
70
Cukup
60
70
2
Ahmad Endar Prasetyo
60
Cukup
60
60
3
Ahmad Syamsiri
60
Cukup
60
60
4
Arifin Soleh
70
Cukup
80
70
5
Budi Muhamad Soleh
60
Cukup
80
60
6
Catur Dwi Atmoko
50
Kurang
60
50
7
Daiman Abada
80
Baik
60
80
8
Dwi Nurhasanah
80
Baik
60
80
9
Fatoni
60
Cukup
60
60
10
Fitriyani
60
Cukup
70
60
11
Halimatussa’diyah
60
Cukup
70
60
12
Hendri Widodo
60
Cukup
70
60
13
Ivan Irwinsyah
70
Cukup
70
70
14
Johari
70
Cukup
60
70
15
Joni Hermawan
70
Cukup
80
70
16
Lilis Utari
70
Cukup
80
70
17
Lina Lestari
60
Cukup
70
70
18
Linda Purnamasari
80
Baik
60
60
19
Maludin
60
Cukup
70
70
20
Melinda Nopitasari
50
Kurang
60
50
21
Moh. Mawardi
70
Cukup
70
70
22
Nita Surati
60
Cukup
60
60
23
Nurhidayati
80
Baik
60
60
24
Nurul Fadilah
90
Baik
60
60
25
Nurul Khotimah
60
Cukup
60
60
26
Nuryani
60
Cukup
60
60
27
Piyanto
60
Cukup
80
80
28
Qori’ A’yun
60
Cukup
60
60
29
Rohmansyah
50
Kurang
60
50
30
Sisniyati
80
Baik
70
80
31
Siswoko
70
Cukup
60
70
32
Siti Rohani
60
Cukup
80
60
33
Sriyatun
70
Cukup
90
70
34
Sugeng Riyanto
60
Cukup
70
60
35
Suji Utawi
70
Cukup
60
70
36
Saiful Rizal
60
Cukup
60
60
37
Taufiq Hidayat
60
Cukup
70
60
38
Temu Veriyanto
60
Cukup
60
60
39
Titik Kurniati
50
Kurang
60
50
40
Veni Widiawati
70
Cukup
80
70
41
Vita Apriana
60
Cukup
80
60
42
Warsito
60
Cukup
60
60
43
Wiratno
70
Cukup
60
70
44
Yuli Sari
70
Cukup
60
70
Sumber : Legher siswa kelas Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009

Dari data di atas diperoleh gambaran bahwa prestasi belajar Mata Pelajaran Fiqih masih rendah. Rendah prestasi belajar Mata Pelajaran Fiqih disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya faktor yang dapat mempengaruhi siswa adalah penggunaan Model Pembelajaran yang masih konvensional. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut variabel di atas. melalui sebuah penelitian yang diberi judul :
“PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI MATA PELAJARAN FIQIH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IX MTs GUPPI KARANGSARI KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2008/2009”

D.          Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah identifikasi masalah maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut “Apakah ada pengaruh model pembelajaran Demonstrasi Mata Pelajaran Fiqih terhadap prestasi belajar siswa Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009”.

E.           Hipotesis
“Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin juga salah, dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya”[17]
Menurut Suharsimi Arikunto
“Hipotesis harus didukung dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan”[18]
Berdasarkan pengertian di atas maka hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh penerapan Model pembelajaran Demonstrasi Mata Pelajaran Fiqih terhadap prestasi belajar siswa Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009.

F.           Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui Model pembelajaran Demonstrasi pada Mata Pelajaran Fiqih.
b.      Untuk mengetahui Prestasi Belajar siswa Mata Pelajaran Fiqih  membawa dampak dan pengaruh yang positif di Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009.
c.       Untuk Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Demonstrasi Mata Pelajaran fiqih terhadap prestasi belajar siswa Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009.
2.      Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna ;
a.       Bagi guru dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan alternatif pilihan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan bagi siswa.
b.      Bagi siswa, dengan pengalaman belajar melalui model pembelajaran Demonstrasi dapat terbiasa melakukan Praktek terutama dalam hal ibadah dan muamalah.
c.       Bagi penulis sendiri, dengan adanya penelitian ini menambah wawasan atau pengetahuan khususnya dalam menyusun proposal untuk menyelesaikan studi di STAI Ma’arif Metro – Lampung.

G.          Metode Penelitian
Dalam metode penelitian ini penulis akan menguraikan tentang jenis dan sifat penelitian, disamping juga membahas tentang populasi.
1.            Jenis dan Sifat penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kancah atau lapangan, (field research) yang berusaha secara maksimal mengungkapkan fakta, lapangan dan kuantitatif melalui metode ilmiah dengan teknik pengumpulan data maupun analisis data yang jelas pula.
Sedangkan sifat penelitiannya adalah prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati[19]
Dengan demikian dapat disimpulkan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang dapat diartikan sebagai penelitian lapangan yang berusaha untuk mengungkapkan gejala atau fenomena suatu objek tertentu sekaligus untuk mengembangkan atau mendeskripsikan fenomena tertentu sesuai apa adanya.
2.            Populasi
Populasi Menurut Hadari Nawawi dalam Metodologi Penelitian Pendidikan yang dikutip oleh S Margono
“Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.”.[20]

Populasi Menurut Suharsimi Arikunto
“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi, studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus[21]

Berdasarkan  pendapat  di atas maka yang dimaksud dengan populasi adalah sejumlah individu yang diteliti dalam suatu penelitian, sehingga penulis menentukan populasi penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas IX yang berjumlah 44 siswa di MTs GUPPI Karangsari ditambah satu guru bidang studi Fiqih, Kepala Sekolah dan Kepala TU jadi penelitian ini adalah penelitian yang kurang dari 100 orang. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi yang berjulah 44 siswa.


3.      Metode Pengumpulan Data.
a.      Observasi.
Menurut S. Margono pengertian observasi adalah “Pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.[22]
Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa observasi adalah melaksanakan pengamatan kepada objek yang akan diselidiki dengan sistematis.
Metode ini digunakan sebagai penunjang untuk mengamati dan mengadakan pencatatan tentang jumlah siswa dan guru, mengamati tentang keadaan model kerja kelompok yang dialaksanakan di tempat penelitian.
Adapun yang menjadi sasaran dari metode ini adalah Kepala Sekolah, Kepala Staf Tata Usaha, Guru Mata Pelajaran Fiqih Kelas IX MTs GUPPI Karangsari
b.      Interview
Metode Interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula, ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dengan sumber informasi untuk memperoleh informasi yang tepat dan objektif.[23]

Dari kutipan tersebut maka Metode Interview merupakan suatu metode yang dilakukan penelitian untuk mengumpulkan suatu keterangan, fakta atau data melalui tanya jawab langsung atau berhadap muka dengan orang yang dibutuhkan, metode ini di tujukan kepada guru fiqih, kepada sekolah dan Siswa guna mengetahui tentang proses belajar mengajar.
c.       Kuesioner
Yang dimaksud kuesioner adalah proses pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden agar dijawab sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
Jenis kuesioner yang dipakai di dalam penelitian ini adalah kuesioner langsung dan tak langsung . Kuesioner langsung yaitu “daftar pertanyaan yang diajukan kepada seseorang untuk meminta keterangan kepada dirinya sendiri” [24]. Kuesioner tak langsung adalah “daftar pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang untuk meminta keterangan untuk orang lain” [25]
Kuesioner ini ditujukan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana pengaruh model Demonstrasi terhadap mata pelajaran fiqih
tersebut diberikan terhadap siswa yang menjadi objek penelitian.


d.       Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Didalam penggunaan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan notulen rapat, agenda, catatan harian dan sebagainya.[26]
Melalui metode ini peneliti dapat mengungkapkan dengan catatan sejarah singkat Kelas IX MTs GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus, keadaan sarana prasarana gedung, keadaan guru dan prestasi belajar siswa maupun benda-benda lain yang dapat dicatat dan dilaporkan dalam penelitian ini secara lengkap data mendetail.
4.      Metode Analisis Data
Dalam teknik analisa data, penulis mengolah hasil wawancara dan observasi dengan mendeskripsikannya kemudian menganalisa dan menyimpulkannya. Kemudian data yang diperoleh dari angket, diseleksi dan disusun. Setelah itu data-data diklasifikasikan lalu dilakukan analisis data.
Dalam hal ini jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif yang kemudian diubah menjadi data kuantitatif dengan meggunakan rumus  statistik.
Adapun rumus yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:



Keterangan :
P = prosentase
F = frekuensi
N = jumlah responden.
Data yang didapat dari setiap item pertanyaan akan dibuat satu tabel yang didalamnya langsung dibuat frekuensi dan prosentase, setelah itu penulis menganalisa dan menginterpretasikan data tersebut.
Dengan demikian, akan diketahui hasil penelitian ini secara pasti dan benar sesuai dengan rumusan penelitian yang dibahas.


RENCANA OUT LINE


 


HALAMAN JUDUL  
ABSTRAK  
HALAMAN PERSETUJUAN  
PENGESAHAN  
MOTTO
PERSEMBAHAN  
RIWAYAT HIDUP  
KATA PENGANTAR  
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Penegasan Judul   
B.     Alasan Memilih Judul 
C.     Latar Belakang Masalah 
D.    Rumusan Masalah 
E.     Hipotesis 
F.      Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 
G.    Metode Penelitian 
BAB II LANDASAN TEORI
  1. Metode Pengajaran dan Macam-macamnya
1.      Pengertian Kompetensi Guru
2.     


 
Macam-macam metode pengajaran dalam proses belajar mengajar
B.     Metode Demonstrasi
1.         Pengertian Metode Demonstrasi
2.         Langkah-langkah dalam mengaplikasikan metode demonstrasi
3.         Kelebihan dan kekurangan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar.
C.     Mata Pelajaran Fiqih
1.      Pengertian dan Tujuan Mata Pelajaran fiqih di MTs
2.      Ruang Lingkup Materi mata pelajaran fiqih di MTs
BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.    Deskripsi tentang Lokasi Penelitian
1.      Sejarah Singkat MTs. GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus.
2.      Keadaan Guru dan Karyawan MTs. GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus.
3.      Keadaan Siswa MTs. MTs. GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus.
4.      Keadaan Sarana dan Fasilitas Madrasah
5.      Struktur Organisasi Sekolah
B.     Pelaksanaan Metode demonstrasi di Kelas IX MTs. GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun pelajaran 2008/2009.
C.     Prestasi belajar mata pelajaran fiqih Kelas IX MTs. GUPPI Karangsari Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009
BAB IV ANALISIS DATA


 
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP
A.     Kesimpulan
B.     Saran
C.     Penutup
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan., Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta, Balai Pustaka,1998 hal 747
[2] Ibid, 1998 Hal 662
[3] Ibid, 1998 Hal 15
[4] Ibid, 1998 Hal 662.
[5] Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengajar, 1991, hal. 15
[6] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta,Bumi Aksara,1995, hal.296.
[7]Roestiyah NK, Op.Cit, Hal 636
[8] Masdar Helmy, Ilmu Ushulul Fiqh, Bandung, Risalah Press, 1997, hal 21
[9] Ibid, 1998 Hal 787
[10] Ibid, 1998 Hal 14
[11] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,Jakarta, Bumi Aksara, 2001, Hal  27
[12] Suparta, Herry Noer Ali, Metodelogi Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Amissco, 2002 Hal 27
[13] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan., Op.Cit Hal 953
[14] Oemar Hamalik, Op.Cit, Hal  101
[15] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1984, hlm. 109.
[16] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996, hlm.86
[17] S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2007, Hal 63
[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik,Yogyakarta, Rineka Cipta, 2006 Hal 66
[19] S Margono, Op.Cit, Hal 36
[20] ibid, 118
[21] Suharsimi Arikunto., Op.Cit. hal 115
[22] S. Margono, Op.Cit, 158
[23] ibid, 165
[24] Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 2, UGM Press, Yogyakarta, 1978, hal 156
[25] Ibid, hal 175
[26] S. Margono ,Op-Cit, 2007, Hal 181

bab berikutnya hubungi :
azk1a@yahoo.co.id

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites