Jumat, 28 Januari 2011

HUBUNGAN PEMBELAJARAN ILMU TAJWID DENGAN KETERAMPILAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA KELAS VIII DINIAH SEMESTER GENAP PONDOK PESANTREN ALFATTAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Penjelasan Judul
Untuk menghindari kesalah pahaman, maka sebelum berbicara lebih lanjut penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini :
“hubungan pembelajaran ilmu tajwid dengan KETERAMPILAN membaca al-qur’an siswa kelas VIII DINIAH semester genap pondok pesantren alfaTtah mincang kecamatan talangpadang kabupaten tanggamus tahun pelajaran 2008/2009” Maka penulis merasa perlu untuk memperbaiki penegasan sebagai berikut :
1.      Hubungan
Menurut Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : “Hubungan dapat diartikan sebagai suatu keterkaitan sesuatu hal (objek) terhadap hal lainnya” [1].
Dengan demikian yang dimaksud dengan hubungan disini merupakan sesuatu keterkaitan antara  pembelajaran ilmu tajwid dengan mata pelajaran membaca al-qur’an. 


2.      Pembelajaran
Pembelajaran adalah Proses Mejadikan Orang atau makhluk hidup belajar[2].
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Dengan demikian pembelajaran yang dilakukan tersebut diharapkan dapat mempermudah penyerapan ilmu yang diajarkan seorang pendidik terhadap peserta didik.
3.      Ilmu
Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu  bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk merangkaikan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahun;[3]. Pengertian ilmu menurut penulis disini merupakan suatu pengetahuan dalam bidang tertentu yang sistematis menjelaskan tentang suatu bidang pengetahuan.
4.      Tajwid
Tajwid adalah membaguskan bacaan, huruf-huruf, kalimat-kalimat al-
Qur’an satu persatu dengan teratur perlahan dan tidak terburu-buru sesuai dengan hukum-hukum tajwid [4].
Jadi yang dimaksud dengan tajwid disini adalah rangakaian aturan yang mengatur tentang cara membaca huruf, kalimat supaya bacaan menjadi teratur dan sesuai menurut kaidah yang telah ditentukan.
5.      Keterampilan Membaca Al-Qur’an
a.       Keterampilan
“Kecakapan untuk menyelesaikan tugas”[5]
b.      Membaca
”Melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis yang dilakukan
dengan melisankan atau dalam hati”[6]
Jadi yang dimaksud dengan keterampilan membaca adalah kecakapan untuk menyelesaikan atau melakukan pemahaman terhadap isi dari sesuatu yang tertulis yang dilakukan dengan cara melafalkan secara lisan atau dalam hati.
c.       Al-Qur’an
“Kitab Suci Umat Islam dan merupakan firman-firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril untuk dipahami dan diamalkan sebagi petujuk atau pedoman hidup umat manusia”.[7]
Jadi yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah suatu pegangan yang menjadi  tuntunan  dan  pedoman  umat  Islam  yang  berisi  firman-firman
Allah Swt, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
6.      Pondok Pesantren Alfattah Mincang
Lembaga pendidikan Non formal  yang menampung Siswa dalam hal ini santri yang terletak di Desa Mincang Kecamatan Talangpadang Kabupaten Tanggamus- Lampung. dimana penulis melakukan penelitian.
7.      Kecamatan Talangpadang
Adalah salah satu nama Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Tanggamus.
8.      Kabupaten Tanggamus
Adalah salah satu nama Kabupaten yang berada di wilayah Propinsi Lampung.
9.      Tahun Pelajaran 2008/2009
Adalah waktu penulis melakukan penelitian.
Jadi judul skripsi ini adalah mengandung pengertian bahwa suatu penyelidikan tentang Hubungan pembelajaran Ilmu tajwid dengan Keterampilan membaca al-Qur’an pada siswa kelas VIII Diniah semester genap Pondok pesantren Alfattah Mincang Kecamatan Talangpadang. Tahun Pelajaran 2008/2009.

B.    Alasan Memilih Judul
Adapun alasan atau pertimbangan yang mendasari penulis memilih judul adalah sebagai berikut :
1.                Al-Qur’an adalah bacaan umat Islam yang harus dipelajari oleh setiap umat Islam
2.                Tajwid adalah pedoman yang memuat aturan tentang tata cara membaca dan melafalkan ayat-ayat suci al-Qur’an.
3.                Masih banyak siswa/santri pondok pesantren Alfattah yang belum mampu membaca al-Qur’an dengan baik (tartil) sesuai dengan bacaan ilmu tajwid.

C.    Latar Belakang masalah
Al-Qur’an merupakan himpunan wahyu Allah SWT yang ditujukan kepada seluruh umat Islam, di dalamnya terkandung pesan-pesan kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia.
Al-Qur’an merupakan petunjuk sebagaimana dikemukan Mahmud Saltut dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yang disebutnya sebagai maksud-maksud Al-Qur’an yaitu :
  1. “Petunjuk tentang aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan tuhan serta keprcayaan akan adanya hari pembalasan.
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan, baik individu maupun kolektif.
  3. Petunjuk mengenai syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan sesamanya”[8].

Pengelompokkan tersebut dapat disederhanakan menjadi 2 yaitu : petunjuk tentang akidah dan petunjuk tentang syari’ah. Dalam menyajikan maksud-maksud, al-Qur’an menggunakan metode-metode sebagai berikut :
  1. “Mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengkaji segala ciptaan Allah sehingga mengetahui rahasia-rahasia-Nya yang terdapat di alam semesta.
  2. Menceritrakan umat terdahulu baik individu maupun kelompok sehingga dari kisah itu manusia dapat mengambil kesimpulan tentang hukum sosial yang diberlakukan Allah terhadap mereka.
  3. Menghidupkan kepekaan bathin manusia yang mendorongnya untuk bertanya dan berfikir tentang awal dan materi dari kejadiannya, kehidupannya dan kesudahannya sehingga insyaf akan tuhan yang menciptakan segala kekuatan.
  4. Memberikan kabar gembira dan janji serta peringatan dan ancaman”.[9]

Sistematika yang digunakan al-Qur’an dalam menyajikan kandungannya tidak sama dengan yang digunakan dalam penyusunan buku-buku ilmiyah. Dalam buku-buku ilmiyah 1 buku dibahas dengan 1 metode tertentu serta dibagi menjadi bab-bab dan pasal-pasal, sedangkan metode ini tidak terdapat dalam al-Qur’an yang menerangkan banyak persoalan induk secara silih berganti.
Al-Qur’an diperuntukkan bagi manusia, oleh sebab itu tidak mengherankan apabila manusia merupakan tema sentral pembahasannya. Di dalamnya diterangkan hakikat manusia, siapa dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada, apa yang harus dilakukannya, masalah hakikat hidup, pandangan hidup dan tujuan hidup memang masalah pendidikan. Namun masalah itu tidak berada dalam ruang lingkup kajian ilmu pendidikan yang hanya menjangkau fakta-fakta empiris, melainkan dalam ruang lingkup filsafat pendidikan yang bisa mengambil datanya dari ajaran-ajaran agama, lebih khususnya sumber ajaran islam yang utama adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, sedangkan nalar dan pemikiran sebagai alat untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, ketentuan ini sesuai dengan agama islam itu sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT yang penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang mengandung firman Allah, turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril, pembawanya Nabi Muhammad SAW, susunannya dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Nas, bagi yang membacanya bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Nabi Muhammad SAW. Keberadaannya hingga kini masih terpelihara dengan baik dan pemasyarakatannya dilakukan secara berantai dari satu generasi ke genarasi lain.
Dalam pada itu ada pula yang mengkhususkan diri, mengkaji petunjuk cara membaca al-Qur’an yang selanjutnya menimbulkan ilmu qiro’at termasuk pula ilmu tajwid. Dan adapula yang mengkaji al-Qur’an dari segi sejarah penulisannya, nama-nama semua itu dilakukan para ulama dengan maksud agar umat islam dapat mengenal secara menyeluruh bagi aspek yang berkenaan dengan al-Qur’an.
Sebagai sumber ajaran islam yang utama al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlhak benar, keberadaan al-Qur’an sangat dibutuhkan manusia karena manusia dengan segala daya yang dimilikinya tidak dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Al-Qur’an berfungsi sebagai konfirmasi yakni memperkuat pendapat akal fikiran, dan sebgai informasi terhadap hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal.
Untuk menerapkan al-Qur’an, perlu ada pengolahan dan penalaran akal manusia dan karena itu pula al-Qur’an diturunkan untuk manusia yang berakal, misalnya kita diperintahkan untuk sholat, puasa, haji dan sebagainya, tetapi cara-cara mengerjakan ibadah tersebut tidak kita jumpai dalam al-Qur’an melainkan dalam hadits Nabi yang dijabarkan oleh para ulama sebagaimana kita jumpai dalam kitab-kitab fiqih.
Selanjutnya al-Qur’an juga berfungsi sebagai hakim atau wasit yang mengatur jalannya kehidupan manusia agar berjalan lurus, itulah sebabnya ketika umat islam berselisih dalam segala urusan, hendaknya ia berhakim pada al-Qur’an. Al-Qur’an lebih lanjut memerankan fungsi sebagai pengontrol dan pengoreksi terhadap perjalanan hidup manusia dimasa lalu dan masa akan datang.
Al-Qur’an bukan saja dipandang dapat berbicara tentang surga dan neraka, tetapi juga tentang penemuan-penemuan ilmiah mutahir. Di dalam al-Qur’an tidak hanya dikemukakan tata aturan akidah, syari’ah dan ibadah, akan tetapi tata aturan mu’amalah baik ekonomi, politik maupun sosial yang kesemuanya bersifat praktis Universal. Al-Qur’an dapat dikatakan mempunyai kedudukan yang paling penting bagi umat Islam, sehingga intisarinya perlu dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, Allah SWT menegaskan dalam surat Al-An’am ayat 38 :
   مَا فَرَّطْنَا فِيْ الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلىَ رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ ( الانعام : ۳۸)
Artinya : “Tiadalah yang kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Qur’an.” [10]
Untuk dapat menyerap intisari dan pesan yang dikandung Al-qur’an, maka langkah yang diperlukan suatu pembelajaran ilmu tajwid guna mempermudah  membaca dan memahami kandungan isinya secara pasti dan untuk itu maka setiap orang perlu mengerti ilmu tajwid agar dapat membaca dan memahami al-Qur’an secara baik dan mendalam serta rinci. Dalam hal ini pembelajaran ilmu tajwid (keterampilan membaca al-Qur’an) dan mengkajinya adalah kegiatan yang penting untuk dapat memahami al-Qur’an. Oleh karena itu sangatlah rasional apabila al-Qur’an dapat porsi yang besar untuk dijadikan bahan pengajaran disetiap jenjang pendidikan bagi umat islam di Indonesia. Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat Al-Muzammil ayat 4 yaitu :
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ اْلقُرْآنَ تَرْتِيْلاً (المزمل : ۶)
Artinya : “Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil.”[11]
Kesimpulannya adalah pembelajaran ilmu tajwid dengan baik dan benar merupakan bagian yang penting bagi siswa untuk bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, dengan perkataan lain memahami ilmu tajwid dengan baik seharusnya merupakan materi atau masuk dalam ruang lingkup mempelajari al-Qur’an. Di pondok pesantren Alfattah mincang Talangpadang terdapat mata pelajaran Ilmu Tajwid sebagai mata pelajaran wajib yang diajarkan. Oleh karena itu di pondok pesantren ini dapat diteliti hal – hal yang berkaitan dengan Kegiatan pembelajaran ilmu tajwid dan membaca al-Qur’an. Menyimak adanya kemungkinan timbul masalah dalam proses pembelajaran ilmu tajwid dan tulis baca al-Qur’an, maka perlu adanya suatu penelitian terhadap hal itu untuk selanjutnya dijadikan acuan dalam upaya meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran ilmu tajwid untuk  membaca al-Qur’an.
Tabel 1  : Nilai Belajar Ilmu Tajwid Siswa Kelas VIII Diniah Semester Genap Pondok Pesantren Alfattah Mincang Kecamatan Talangpadang Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009
No
Predikat
Jumlah Siwa
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tinggi
Sedang
Rendah
Kurang
14
28
8
-
28 %
56 %
16%
-
Jumlah
50
100%
Sumber     : Legher Nilai Tajwid Kelas VIII Diniah Tahun Pelajaran 2008/2009.

Sedangkan dalam nilai keterampilan membaca al-Qur’an dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 2  : Nilai Keterampilan Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas VIII Diniah Semester Genap Pondok Pesantren Alfattah Mincang Kecamatan Talangpadang Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2008/2009
No
Predikat
Jumlah Siwa
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tinggi
Sedang
Rendah
Kurang
6
23
19
2
12 %
46 %
38 %
4 %
Jumlah
50
100%
Sumber : Legher Nilai Keterampilan Membaca Al-Qur’an Kelas VIII Diniah Tahun Pelajaran 2008/2009
Berdasarkan Tabel  di atas ternyata prestasi siswa dalam mempelajari ilmu tajwid cukup tinggi, tetapi kemampuan membaca al-Qur’an belum sesuai dengan prestasi ilmu tajwid yang telah dicapai.
Untuk melihat tentang hubungan pembelajaran ilmu tajwid dapat dilihat dari nilai raport,  sedangkan   nilai  mata pelajaran   membaca   al - Qur’an  dilihat   dari   baik  benarnya, fasih tidak mengucapkan huruf, intonasinya, tartil dan bagus menyuarakannya.
Hubungan pembelajaran ilmu tajwid dengan mata pelajaran membaca al-Qur’an dapat dideskripsikan pada skema berikut ini :
Skema ruang lingkup belajar ilmu tajwid terhadap keterampilan membaca al-Qur’an
                                    









D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah identifikasi masalah maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut Apakah ada hubungan pembelajaran ilmu tajwid dengan keterampilan  membaca al-Qur’an siswa kelas VIII Diniah semester genap di pondok pesantren Alfattah Mincang Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.

E.     Hipotesis
“Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin juga salah, dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya”[12]
Menurut Suharsimi Arikunto “Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”[13]
Sudjana mengatakan “Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekan.”[14]
Berdasarkan pengertian diatas maka hipotesis adalah dugaan sementara mengenai sesuatu yang menjadi permasalahan dalam suatu penelitian yang patut diuji kebenarannya, adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah Pembelajaran Ilmu tajwid mempunyai hubungan yang signifikan dengan keterampilan membaca al-Qur’an siswa kelas VIII Diniah semester genap pondok pesantren Alfattah mincang Talangpadang.
F.     Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.          Untuk mengetahui pembelajaran ilmu tajwid
b.          Untuk mengetahui keterampilan membaca al-Quran
c.          Untuk mengetahui Hubungan pembelajaran ilmu tajwid dengn keterampilan membaca al-Qur’an
2.      Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada guru yang mengajar ilmu tajwid di pondok pesantren Alfattah Mincang Kecamatan Talangpadang
b.      Untuk meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an pada siswa/santri
c.       Bagi penulis sendiri dengan adanya penelitian ini akan menambah wawasan / pengetahuan  khususnya  dalam  menyusun  skripsi   untuk  menyelesaikan studi di STAI Ma’arif Metro Lampung.

G.    Metode Penelitian
Dalam metodelogi penelitian ini penulis akan menguraikan tentang jenis dan sifat penelitian, disamping juga membahas tentang populasi, Sampel, Metode Pengumpulan data.

1.      Jenis dan Sifat penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kancah atau lapangan, (field research) yang berusaha secara maksimal mengungkapkan fakta, lapangan dan kuantitatif melalui metode ilmiah dengan teknik pengumpulan data maupun analisis data yang jelas pula.
“Sedangkan sifat penelitiannya adalah deskriptif kuantitatif sesuai dengan namanya banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran tentang data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.”[15]
Dengan demikian dapat disimpulkan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang dapat diartikan sebagai penelitian lapangan yang berusaha untuk mengungkapkan gejala atau fenomena suatu objek tertentu sekaligus untuk mengembangkan atau mendeskripsikan fenomena tertentu sesuai apa adanya.
2.      Populasi
Populasi Menurut Hadari Nawawi dalam Metodologi Penelitian Pendidikan yang dikutip oleh S Margono
“Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.”[16]
Populasi Menurut Suharsimi Arikunto “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi, studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus[17]
Berdasarkan  pendapat  diatas maka yang dimaksud dengan populasi adalah sejumlah individu yang diteliti dalam suatu penelitian, sehingga penulis menentukan populasi penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas VIII Diniah semester genap yang berjumlah 50 siswa di Pondok Pesantren Alfattah ditambah satu guru bidang studi al-Qur’an hadist, jadi penelitian ini adalah penelitian yang kurang dari 100 orang, semua populasi akan diteliti jadi penelitian ini adalah penelitian populasi.
3.      Sampel
Dalam suatu penelitian, sering berhadapan dengan populasi yang banyak. Adapun pengertian dari metode sampling adalah “Memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi.” [18]
Dalam pengertian yang lain metode sampling adalah “cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sample.”[19]
“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila jumlah subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi, selajutnya jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih.”[20]
Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa metode sampling adalah suatu cara dalam mengambil sample dari populasi sehingga contoh tersebut mewakili seluruh populasi.
4.      Metode Pengumpulan Data.
a.    Metode Observasi.
Menurut S. Margono pengertian observasi adalah “Pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap   gejala   yang   tampak pada
objek penelitian”.[21]
Suharsimi arikunto menjelaskan ”bahwa observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kedalam suatu skala bertingkat.”[22]
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa observasi adalah melaksanakan pengamatan kepada objek yang akan diselidiki dengan sistematis.
Metode ini digunakan sebagai penunjang untuk mengamati dan mengadakan pencatatan tentang jumlah siswa dan guru, mengamati tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya anak sekolah. Juga keadaan lingkungan belajar dan sarana prasarana belajar anak pondok pesantren
b.    Metode Interview
Menurut Suharsimi Arikunto “Metode Interview adalah suatu proses tanya jawab lisan yang mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik yang satu dapat melihat muka dengan yang lain dapat mendengar telinga sendiri, merupakan alat pengumpulan informasi yang langsung untuk mengungkap beberapa jenis data sosial baik yang terpendam maupun manifest”.[23]

Dari kutipan tersebut maka Metode Interview merupakan suatu metode yang dilakukan penelitian untuk mengumpulkan suatu keterangan, fakta atau data melalui tanya jawab langsung atau berhadap muka dengan orang yang dibutuhkan, metode ini di tujukan kepada Guru Ilmu Tajwid, kepala  sekolah,  guna  mengetahui  Sejauh   mana   prestasi   belajar  siswa khususnya mata pelajaran membaca Al-qur’an.
c.    Metode Tes
Menurut Suharsimi Arikunto, “Tes adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi. Untuk mengukur dasar antara lain tes untuk mengukur intelegensi (IQ), tes minat, tes bakat khusus dan sebagainya, sedangkan untuk mengukur prestasi belajar yang biasa digunakan di sekolah dapat di bedakan menjadi dua yaitu tes buatan guru dan tes standar”.[24]

Alasan digunakan metode tes ini adalah karena dua variabel yang diteliti merupakan kemampuan yang dimiliki siswa dalam segi psikomotor, untuk membaca al-Qur’an dalam judul skripsi yang penulis ambil dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terkait :
1.    Variabel bebasnya adalah hubungan  ilmu tajwid
2.    variabel terikatnya adalah mata pelajaran membaca al-Qur’an.
Dalam melakukan metode tes ini penulis melakukan tes langsung (praktek) untuk mengetahui sejauh mana hubungan  ilmu tajwid dengan mata pelajaran membaca al-Qur’an tersebut diberikan terhadap 79 siswa yang menjadi objek penelitian.
Sedangkan prosedur tes yang penulis gunakan ialah “mengadakan tes langsung dengan memanggil satu persatu siswa yang dijadikan sampel kemudian  mengajukan  beberapa  pertanyaan dan para responden langsung menjawab dengan kreteria penilaiannya adalah :
1.      Bacaan Lancar sekali
2.      Bacaan sedang
3.      Mampu membaca serta tidak mampu membaca
Dengan aspek yang dinilai adalah sebagi berikut :
1.      Baik dan benar bacaannya.
2.      Fasih mengucapkan huruf-hurufnya
3.      Intonasi tertil
4.      Indah Suaranya.
d.       Metode Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Dokumentasi atau dokumenter menurut S. Margono adalah
”Cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.[25]
Suharsimi Arikunto menyebutkan ”mencari data mengenai hal-hal atau fariabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legher, agenda dan sebagainya”[26]
Melalui metode ini peneliti dapat mengungkapkan dengan catatan sejarah singkat pondok pesantren Alfattah Mincang kecamatan Talangpadang Tanggamus, keadaan sarana dan prasarana gedung, keadaan guru dan prestasi belajar siswa maupun benda-benda lain yang dapat di catat dan di laporkan dalam penelitian ini secara lengkap data mendetail
5.      Metode Analisis Data
Dalam teknik analisa data, penulis mengolah hasil pengumpulan data dengan mendeskripsikannya kemudian menganalisa dan menyimpulkannya. Kemudian data yang diperoleh pengumpulan data, diseleksi dan disusun. Setelah itu data-data diklasifikasikan lalu dilakukan analisis data.
Dalam hal ini jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif yang kemudian diubah menjadi data kuantitatif dengan meggunakan rumus statistik Product Moment dengan rumus sebagai berikut : :
Keterangan :
rXY                    : Angka indeks korelasi “r” Product Moment
n                       : Number of Cases (jumlah siswa diteliti)
åXY                : Jumlah hasil perkalian skor X dan Y
åX                   : Jumlah skor X
åY                   : Jumlah skor Y [27]


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan., Kamus Besar Bahasa  Indonesia,Jakarta, Balai Pustaka,1998     hal 747
[2] Ibid, 1998 Hal 15
[3] Ibid,1998, Hal  371
[4] Ahmad Mas’ud Syafi’i, Buku Tajwid, MG Smarang, 1967, Hal  2
[5] Ibid, 1990  Hal  1044
[6] Ibid, 1990  Hal  72
[7] Salahuddin Hamid, MA, Ulumul Qur’an, Jakarta, Inti Media Cipta Nusantara, 2002, hal 17
[8] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, PT. Logos, Jakarta 1999, Hal 33
[9] Ibid, Hal 34
[10] Rifa’i. Moh., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Wicaksana, 1994 Hal 192
[11] Ibid, 1994 Hal  988
[12] Margono S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2007, Hal 63
[13] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik,Jakarta, Rineka Cipta, 2006 Hal 71
[14] Sudjana, Metode Statistika,Bandung, Tarsitoo, 2005, Hal 219
[15] Ibid. hal 12
[16] ibid, 118
[17] Suharsimi Arikunto., Op.Cit. hal 130
[18] Ibid.., hal. 86
[19] Sutrisno Hadi, Metodologi Research,Jilid 1, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1985, hal. 63
[20] Ibdid…, hal. 120
[21] Margono S, Op.Cit, 158
[22] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, 229
[23] Suharsimi Arikunto.,Op.Cit. 2007, hal 115
[24] Ibid., Hal 223
[25] Ibid, Hal 181
[26] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, Hal 231
[27] Margono S.,Op-Cit, 2007, Hal 209

1 comments:

Bung Admin tolong dong minta kontak number nya ponpes alfatah mincang ya .. ini ane lagi perlu banget

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites