Skripsi PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Penegasan Judul

Untuk menghindari kesalah pahaman, maka sebelum berbicara lebih lanjut penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini :
“PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) DI KELAS VII MTs AL-KHAIRIYAH TALANGPADANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009”
Maka penulis merasa perlu untuk memperbaiki penegasan sebagai berikut :
1.      Pengaruh
Pengaruh adalah “Daya yang ada atau timbul dari sesuatu benda, oarng yang turut menentukan keadaan, watak, kepercayaan, dan sebagainya.” [1]
Jadi yang dimaksud dengan pengaruh disini adalah efek yang ditimbulkan oleh suatu proses interaksi belajar mengajar dalam bidang studi sejarah kebudayaan islam.
2.      Interaksi Edukatif

Interaksi Edukatif adalah “terjadinya hubungan timbale balik antara guru (pendidik) dan peserta didik (murid) dalam suatu system pengajaran” [2].
Jadi yang dimaksud dengan interaksi edukatif adalah hubungan yang dinamis anatara guru dengan siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan.
3.   Proses Belajar Mengajar

Proses dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti : “Runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu”[3]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia Belajar adalah : “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu” [4]
Sardiman menyebutkan bahwa ”Belajar dilihat dalam arti luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi yang seutuhnya, kemudian dalam arti sempit belajar dapat diartikan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknha kepribadian seutuhnya”.[5]

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu usaha seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan meliputi perubahan aspek kognitif, afektif dan psikomotor, dan perubahan itu diperoleh dari latihan atau pengalaman dari lingkungan.
Mengajar dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah : ”Memberikan pelajaran” [6]

Sedangkan menurut Sardiman AM menyebutkan :
“Mengajar dalam pengertian yang luas. Suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.” [7]
Dari pendapat mengajar tersebut di atas maka pengertian mengajar adalah suatu aktivitas seorang guru yang memberikan pelajaran kepada anak didiknya.
Jadi proses belajar mengajar adalah Runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan usaha seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diberikan oleh guru kepada anak didik.
4.   Prestasi Belajar

Menurut Oemar Hamalik, fungsi utama evaluasi adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran yang bertalian langsung dengan penguasaan tujuan-tujuan yang menjadi target pengajaran.[8]
Menurut Kamus besar bahasa Indonesua bahwa prestasi adalah “hasil yang telah dicapai” [9]
Jadi prestasi belajar adalah pencapaian hasil belajar siswa yang berupa penghargaan atau nilai yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diberikan oleh guru

5.   Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam
Bidang menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ”segi pandang atau aspek”[10]. Sedangkan Studi adalah penelitian ilmiah, kajian atau telaahan”[11]
Jadi bidang studi mengandung arti segi pandang atau aspek suatu penelitian ilmiah.
Sejarah Kebudayaan Islam adalah ilmu yang berusaha menggali peristiwa-peristiwa masa lalu[12]
Sejarah Kebudayaan Islam disini disebutkan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Madrasah yang menceritakan peristiwa Islam pada masa lalu.
Dari pengertian di atas Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam adalah segi pandang atau aspek suatu penelitian ilmiah tentang peristiwa Islam pada masa lalu.
6.   MTs. Al-Khairiyah Talangpadang
MTs. Atau Madrasah Tsanawiyah Yaitu suatu lembaga pendidikan agama setingkat dengan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP)
Al-Khairiyah adalah nama suatu lembaga atau yayasan yang ada di desa sinarbanten kecamatan talangpadang kabupaten tanggamus yang berpusat di Citangkil Kodya Cilegon Banten.
Talangpadang adalah nama suatu wilayah yang berada di Kabupaten Tanggamus.
Berdasarkan pada uraian tesebut d iatas maka dapat disimpulkan bahwa MTs. Al-Khairiyah Talangpadang adalah Suatu lembaga pendidikan agama yang setingkat dengan SLTP yang mempunyai yayasan yaitu Al-Khairiyah yang berada di Desa Sinarbanten dan di dalam wilayah Kabupaten Tanggamus, yang menjadi tempat penelitian penulis

B.     Alasan Memilih Judul
Adapun alasan atau pertimbangan yang mendasari penulis memilih judul adalah sebagai berikut :
1.      Kurang meningkatnya prestasi belajar siswa terhadap bidang studi sejarah kebudayaan islam harus diteliti dan ditelaah untuk mencari faktor-faktor penyebabnya, sehingga dapat dicapai jalan keluar guna meningkatkan efektifitas proses belajar mengajardan dapat tercapainya prestasi belajar siswa yang lebih optimal.
2.      Proses belajar mengajar di madrasah tsanawiayah al-khairiayah talangpadang telah dilakukan secara optimal agar prestasi siswa dapat meningkat dengan menerapkan interaksi edukatif dalam proses belajar mengajar namun hasilnya belum sesuai dengan yang  diharapkan sehingga perlu diteliti faktor-faktor penyebabnya.
3.      Mengingat betapa pentingnya bidang studi sejarah kebudayaan islam untuk terus diajarkan dan diintensifkan proses pembelajarannya kepada siswa dalam membekali pengetahuan, pengalaman dan kesadaran dalam pengamalan kehidupan sehari-hari baik disekolah maupun di masyarakat.

C.    Latar Belakang Masalah

Setiap negara menentukan sendiri dasar tujuan pendidikan dinegaranya, hal in sangat ditentukan oleh bentuk dan corak falsafah yang dianut oleh bangsa dan negara tersebut. Sebagimana tujuan pendidikan nasional, yang tercantum dalam Undang-Undang republik Indonesia No. 2 tahun 1989 tentang sisitem pendidikan nasional yaitu:
“mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”[13] 
   Untuk mewujudkan tujuan tersebut, harus ditempuh melalui proses pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan formal, yaitu dengan mengikuti proses interaksi belajar mengajar.
 Menciptakan suatu pendidikan yang baik dan efektif tidak akan terlepas dari kegiatan belajar mengajar yang dirumuskan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran, dalam kegiatan belajar mengajar perlu perhatikan  tingakat keberhasilan (prestasi) peserta didik dalam menangkap ilmu yang disampaikan oleh pendidik agar sesuai dengan materi yang akan disampaikan atau diberikan. Dengan demikian tujuan yang akan dicapai atau diinginkan dalam pengajaran tersebut mudah tercapai.
Selain itu perlu di perhatikan agar apa yang didapatkan siswa dari hasil belajar lebih permanen atau bertahan lama dalam ingatannya. Maksudnya, siswa tidak mudah melupakan apa yang diperolehnya sebagai hasil belajar. Hal ini, sangat penting karena materi pelajaran yang disusun berdasakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sebelumnya telah dibuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah tersusun dan sistematis.
Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari tentu saja seorang guru ingin selalu berhasil dalam pengajarannya. Semua ilmu pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang diajarkan kepada siswanya diharapkan dapat diterima, dicamkan, diingat dan diproduksikan oleh siswa. Bukanlah hal yang mudah untuk memperoleh hasil pengajaran seperti harapan yang telah dicita—citakan oleh guru. Mengajar suatu pelajaran meminta guru suatu usaha yang memerlukan pengorganisasian yang matang dari semua komponen dalam suatu situasi belajar mengajar.
Komponen itu adalah tujuan, materi, metode, perlengkapan, media dan alat evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar, komponen tersebut memegang peranan yang sangat penting.
Berdasarkan pra penelitian yang penulis lakukan pada siswa kelas VII semester Genap MTs. Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009 dengan mewawancarai salah satu guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII di sekolah tersebut di peroleh informasi bahwa kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam telah berjalan lancar, pemberian materi pelajaran sesuai dengan Kurikulum KTSP mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
Begitu pula dengan penyediaan sarana prasarana berupa perpustakaan serta buku-buku pokok dan buku penunjang pelajaran bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam cukup memadai. Guru bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah tersebut pun memilki kualifikasi yang memadai.
Untuk selanjutnya diadakan pra survey terhadap 138 orang siswa kelas VII yang terdiri dari kelas VII.a = 45 orang siswa, kelas VII.b = 47 orang siswa, dan kelas VII.c = 46 orang siswa, untuk melakukan penjajakan awal yang hasilnya dapat ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1
Interaktif Edukatif dan prestasi Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang
Tahun Pelajaran 2008/2009
NO
Nama Siswa
Interaksi Belajar
Prestasi Belajar
1
Alisha Fitriyani
Tinggi
80
2
Deni Hardiansyah
Tinggi
75
3
Endang
Tinggi
60
4
Fatimah
Tinggi
50
Bersambung ……
Lanjutan Tabel 1
5
Galuh Putra Pratama
Tinggi
60
6
Indah Sari
Tinggi
80
7
Jauzah Hanifah
Tinggi
60
8
Kania Novita
Tinggi
50
9
Nasrofi
Tinggi
60
10
Piska Yusita
Tinggi
50
                        Sumber : Pengamatan Pra survey terhadap 10 orang siswa
Keterangan :
Tinggi     : nilai 80 interaksi belajar cukup tinggi dan prestasi belajar memuaskan
Sedang   : nilai 60-70 interaksi belajar cukup tinggi dan prestasi belajar cukup
Kurang   : nilai 50 interaksi belajar cukup tinggi dan prestasi belajar kurang

Dari keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa nilai tinggi diperoleh karena pengaruh interaksi multi arah yaitu, interaksi antara guru dengan murid, dan murid dengan murid, sedangkan nilai cukup diperoleh karena pengaruh interaksi dua arah yaitu interaksi antara guru dan murid, serta nilai kurang diperoleh karena pengaruh interaksi satu arah yaitu guru saja.
Dari tabel di atas maka nampak jelaslah bahwa interaksi edukatif dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) tersebut telah dilaksanakan. Adapun dari segi prestasi yang dicapai siswa MTs. Al-Khairiyah Talangpadang dalam mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2
Nilai Semester Ganjil Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009
No
Nilai
Jumlah
Persen
1
70
-
-
2
60
5
3.62%
3
50
45
32.61%
4
40
64
46.38%
5
30
14
10.14%
6
20
10
7.25%

JUMLAH
138
100%
Sumber : Analisa hasil ulangan harian pada MTs. Al-Khairiyah Talangpadang
Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa yang mendapat nilai 70 tidak ada, nilai 60 sebanyak 5 orang (3,62 %), nilai 50 sebanyak 45 orang (32,61 %) nilai 40 sebanyak 64 orang (46,38 %), nilai 30 sebanyak 14 orang (10,14 %), nilai 20 sebanyak 10 orang (7,25 %) dengan demikian jelaslah bahwa siswa MTs. Al-Khairiyah Talangpadang dalam bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam masih rendah. Berdasarkan standar nilai sebagai berikut :
a.       10 : Istimewa
b.      90 : Lebih baik
c.       80 : Baik
d.      70 : Lebih dari cukup
e.       60 : Cukup
f.     50 : Kurang
g.     40 : Kurang sekali
h.     30 : Buruk
i.       20 : Buruk sekali[14]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa interaksi edukatif belajar mengajar yang telah dilaksanakan dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ternyata belum berhasil sehingga penulis merasa perlu untuk meneliti lebih lanjut.
D.                Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut “adakah pengaruh interaksi belajar mengajar terhadap prestasi belajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.

E.     Hipotesis
“Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin juga salah, dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya”[15]
Menurut Suharsimi Arikunto
“Hipotesis harus didukung dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan”[16]
Berdasarkan pengertian di atas maka hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh interaksi belajar mengajar terhadap prestasi belajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.

F.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.   Tujuan Penelitian
a.     Untuk mengetahui interaksi belajar mengajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.
b.    Untuk mengetahui prestasi belajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.
c.     Untuk Mengetahui pengaruh interaksi belajar mengajar terhadap prestasi belajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Kelas VII MTs Al-Khairiyah Talangpadang Tahun Pelajaran 2008/2009.
2.    Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna ;
a.       Sebagai Informasi tentang proses belajar mengajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam bagi para pendidik.
b.      Sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka meningkatkan keberhasilan proses interaksi edukatif dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
c.       Dengan adanya penelitian ini menambah wawasan atau pengetahuan bagi penulis khususnya dalam menyusun skripsi untuk menyelesaikan studi di STAI Ma’arif Metro – Lampung.

G.    Metode Penelitian
Dalam metode penelitian ini penulis akan menguraikan tentang jenis dan sifat penelitian, Metode sampling dan populasi.
1.               Jenis dan Sifat penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kancah atau lapangan, (field research) yang berusaha secara maksimal mengungkapkan fakta, lapangan dan kuantitatif melalui metode ilmiah dengan teknik pengumpulan data maupun analisis data yang jelas pula.
Sedangkan sifat penelitiannya adalah penelitian kualitatif yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah “prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati”[17]
Dengan demikian dapat disimpulkan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang dapat diartikan sebagai penelitian lapangan yang berusaha untuk mengungkapkan gejala atau fenomena suatu objek tertentu sekaligus untuk mengembangkan atau mendeskripsikan fenomena tertentu.
2.            Populasi
Populasi Menurut Hadari Nawawi dalam Metodologi Penelitian Pendidikan yang dikutip oleh S Margono
“Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.”.[18]
Populasi Menurut Suharsimi Arikunto
“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi, studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus[19]
Berdasarkan  pendapat  di atas maka yang dimaksud dengan populasi
adalah sejumlah individu yang diteliti dalam suatu penelitian, sehingga penulis menentukan populasi penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas VII yang berjumlah 138 siswa di MA Al-Khairiyah ditambah satu guru bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam jadi penelitian ini adalah penelitian yang lebih dari 100 orang, semua populasi akan diteliti
3.      Metode Sampling
Dalam suatu penelitian, sering berhadapan dengan populasi yang banyak. Adapun pengertian dari metode sampling adalah “Memilih sejumlah tertentu dari keseluruhan populasi.” [20]
Dalam pengertian yang lain metode sampling adalah “cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sample.”[21]
Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode sampling adalah suatu cara dalam mengambil sample dari populasi sehingga contoh tersebut mewakili seluruh populasi.
Sedangkan pengertian populasi itu sendiri adalah “jumlah keseluruhan dari satuan-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak diduga.”[22]
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah Sinarbanten Talangpadang Selanjutnya dalam menetapkan besar kecilnya sample penulis berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto sebagai berikut :
“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila jumlah subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi, selajutnya jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih.”[23]
Berdasarkan keterangan tersebut, maka penulis mengambil sample sebesar 25% dari jumlah populasi yang ada yaitu terdiri dari kelas VII.a = 45 siswa, kelas VII.b = 47 siswa dan kelas VII.c = 46 siswa, dengan jumlah seluruh 138 siswa yaitu 138 x 25/100 = 34,5 dibulatkan menjadi 35 dengan perincian sebagai berikut :

Table 3
Jumlah Prosentase Sampel Berdasarkan Populasi
No
Kelas
Populasi (25%)
Jumlah Sampel
Pembulatan Sampel
1
VII.a
45 x   25
100
11,25
11
2
VII.b
47 x   25
100
11,75
12
3
VII.c
46 x   25
100
11,5
12
Jumlah

34,5
35

3.      Metode Pengumpulan Data.
a.      Metode Observasi.
Menurut S. Margono pengertian observasi adalah “Pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.[24]
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa observasi adalah melaksanakan pengamatan kepada objek yang akan diselidiki dengan sistematis.
Metode ini digunakan sebagai penunjang untuk mengamati dan mengadakan pencatatan tentang jumlah siswa dan guru, mengamati tentang prestasi belajar siswa yang dialaksanakan di tempat penelitian.
Adapun yang menjadi sasaran dari metode ini adalah Kepala Sekolah, Kepala Staf Tata Usaha, Guru bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
b.      Metode Interview
Metode Interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula, ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dengan sumber informasi untuk memperoleh informasi yang tepat dan objektif.[25]

Dari kutipan tersebut maka Metode Interview merupakan suatu metode yang dilakukan penelitian untuk mengumpulkan suatu keterangan, fakta atau data melalui tanya jawab langsung atau berhadap muka dengan orang yang dibutuhkan, metode ini di tujukan kepada guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), kepala sekolah dan Siswa guna mengetahui tentang proses belajar mengajar.
c.       Metode Kuesioner
Yang dimaksud kuesioner adalah proses pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden agar dijawab sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
Jenis kuesioner yang dipakai di dalam penelitian ini adalah kuesioner langsung dan tak langsung . Kuesioner langsung yaitu “daftar pertanyaan yang diajukan kepada seseorang untuk meminta keterangan kepada dirinya sendiri” [26]. Kuesioner tak langsung adalah “daftar pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang untuk meminta keterangan untuk orang lain” [27]
Kuesioner ini ditujukan kepada siswa untuk memperoleh data : interaksi aktif proses belajar mengajar bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) serta kondisi aktifitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
d.      Metode Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Didalam penggunaan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan notulen rapat, agenda, catatan harian dan sebagainya.[28]
Melalui metode ini peneliti dapat mengungkapkan dengan catatan sejarah singkat MTs. Al-Khairiyah Talangpadang, keadaan sarana prasarana gedung, keadaan guru dan prestasi belajar siswa maupun benda-benda lain yang dapat dicatat dan dilaporkan dalam penelitian ini secara lengkap data mendetail

4.      Metode Analisis Data
Untuk  mengetahui  analisis  data  kualitatif  berupa  angka-angka yang diperoleh melalui test maka peneliti menggunakan Rumus Product Moment dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rXY               : Angka indeks korelasi “r” Product Moment
n                 : Number of Cases (jumlah siswa diteliti)
åXY          : Jumlah hasil perkalian skor X dan Y
åX             : Jumlah skor X
åY             : Jumlah skor Y [29]


[1] Anton M.moeliono, dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, balai pustaka, Jakarta 1994. hlm. 664.
[2] B. Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta,2002, hlm.156.
[3] Anton M.moeliono, dkk,Op-Cit,. hlm. 790
[4]Ibid,. hlm. 14
[5] Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Grafindo Persada, 2007, Hal 20
[6] Anton M.moeliono, dkk,Op-Cit,. hlm. 15
[7] Sardiman AM, Op.Cit, Hal 48
[8] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, 2007, Hal 145
[9] Anton M.moeliono, dkk,Op-Cit,. hlm. 790
[10]Ibid,. hlm. 130
[11]Ibid,. hlm. 130
[12] Departemen Agama RI, Kurikulum Standar Kompetensi , Jakarta, , 2005, Hal 65
[13] Hasbullah, kapita selekta pendidikan Islam, Jakarta, 1996, hlm. 28
[14] Departemen Pendidikan Nasional, Hasil Laporan Pendidikan, Jakarta, 1999, hlm. 2
[15] S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2007, Hal 63
[16] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik,Yogyakarta, Rineka Cipta, 2006 Hal 66
[17] Margono.S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2007, Hal 36
[18] ibid, 118
[19] Suharsimi Arikunto., Op.Cit. hal 115
[20] Ibid.., hal. 86
[21] Sutrisno Hadi, Metodologi Research,Jilid 1, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1985, hal. 63
[22] Suharsimi Arikunto, Op Cit, 130
[23] Ibdid…, hal. 120
[24] S. Margono, Ibid, 158
[25] ibid, 165
[26] Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 2, UGM Press, Yogyakarta, 1978, hal 156
[27] Ibid, hal 175
[28] S. Margono ,Op-Cit, 2007, Hal 181
[29] S. Margono ,Op-Cit, 2007, Hal 209

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites